2026-10-30 10:00:50

Sejarah dan Perkembangan Kota Samarinda: Dari Tepian Mahakam hingga Ibu Kota Kalimantan Timur

Kota Samarinda memiliki sejarah panjang sejak 21 Januari 1668. Dari permukiman tepian Sungai Mahakam hingga menjadi ibu kota Kalimantan Timur, simak perkembangan dan fakta menariknya.

Jembatan Mahakam di atas Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur.

Asal Usul Nama dan Berdirinya Samarinda

Kota Samarinda memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari keberadaan Sungai Mahakam. Nama Samarinda konon berasal dari kata 'sama rendah' yang menggambarkan rumah-rumah rakit yang dibangun sama rendah di atas permukaan sungai. Versi lain menyebutkan nama ini berasal dari 'samar' dan 'inda' yang berarti samar-samar terlihat indah. Namun, versi 'sama rendah' paling banyak dirujuk dalam catatan resmi pemerintah kota.

Legenda Sama Rendah

Pada masa lampau, wilayah Samarinda merupakan bagian dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Sungai Mahakam menjadi jalur transportasi utama. Para pedagang dan pendatang dari berbagai daerah, termasuk Bugis, Banjar, dan Jawa, datang dan menetap di tepian sungai. Mereka membangun rumah panggung dan rakit yang ketinggiannya disamakan agar tidak saling menghalangi. Dari kebiasaan inilah muncul sebutan 'sama rendah' yang kemudian menjadi Samarinda.

Kedatangan Suku Bugis dan Penetapan Hari Jadi

Hari jadi Kota Samarinda ditetapkan pada 21 Januari 1668. Tanggal ini merujuk pada kedatangan rombongan suku Bugis dari Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona, yang juga dikenal sebagai Pua Ado. Rombongan ini diterima oleh Sultan Kutai Kartanegara dan diberi izin untuk menetap di kawasan tepian Sungai Mahakam. Sejak saat itu, permukiman tersebut berkembang menjadi kampung yang ramai. Penetapan hari jadi ini tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 1 Tahun 1988.

Samarinda pada Masa Kolonial dan Kemerdekaan

Seiring berjalannya waktu, Samarinda tumbuh menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan di wilayah timur Kalimantan. Pada masa Hindia Belanda, Samarinda menjadi bagian dari Keresidenan Kalimantan Timur. Belanda membangun beberapa infrastruktur, seperti jalan dan pelabuhan, untuk mendukung eksploitasi sumber daya alam, terutama kayu dan hasil hutan.

Masa Kerajaan Kutai hingga Hindia Belanda

Sebelum kedatangan Belanda, Samarinda berada di bawah pengaruh Kesultanan Kutai Kartanegara. Setelah Belanda masuk pada pertengahan abad ke-19, wilayah ini secara bertahap berada di bawah administrasi kolonial. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Samarinda juga tidak luput dari dampak perang. Setelah Indonesia merdeka, Samarinda menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Timur yang dibentuk pada tahun 1956.

Menjadi Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur

Pada tahun 1959, melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959, Samarinda resmi ditetapkan sebagai Kotamadya (sekarang Kota) dan sekaligus menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Sejak saat itu, Samarinda berkembang pesat menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan di Kalimantan Timur. Berbagai fasilitas publik dibangun, seperti kantor gubernur, rumah sakit, sekolah, dan perguruan tinggi. Universitas Mulawarman, yang berdiri pada tahun 1962, menjadi salah satu perguruan tinggi negeri tertua di Kalimantan.

Perkembangan Kota dan Infrastruktur

Perkembangan Samarinda sangat dipengaruhi oleh posisinya sebagai kota tepian Sungai Mahakam. Sungai ini menjadi nadi kehidupan, baik untuk transportasi, perdagangan, maupun budaya. Seiring pertumbuhan penduduk, kota ini terus berbenah. Kawasan Samarinda Seberang dan Samarinda Kota dihubungkan oleh jembatan yang menjadi ikon kota.

Jembatan Mahakam dan Konektivitas

Jembatan Mahakam, yang mulai dibangun pada tahun 1982 dan diresmikan pada tahun 1987, menjadi penghubung utama antara Samarinda Seberang dan pusat kota. Jembatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjadi landmark Kota Samarinda. Selain itu, dibangun pula Jembatan Mahkota (Mahakam Bridge II) yang diresmikan pada tahun 2009 untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Pembangunan Bandara APT Pranoto yang diresmikan pada tahun 2018 juga menjadi tonggak penting dalam meningkatkan konektivitas Samarinda dengan daerah lain.

Ekonomi dan Budaya

Ekonomi Samarinda ditopang oleh sektor pertambangan, kehutanan, perdagangan, dan jasa. Kota ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara dan kayu di Kalimantan Timur. Selain itu, Samarinda memiliki warisan budaya yang khas, seperti Kain Sarung Samarinda. Sarung ini merupakan kain tenun tradisional yang diproduksi oleh masyarakat lokal, terutama di kawasan Samarinda Seberang. Motif dan coraknya yang khas menjadikan sarung ini sebagai salah satu identitas budaya Kota Samarinda.

Samarinda Kini

Kini, Samarinda terus berbenah menjadi kota yang modern namun tetap mempertahankan nilai budaya dan sejarahnya. Pemerintah kota gencar melakukan pembangunan infrastruktur, seperti perbaikan jalan, taman kota, dan ruang terbuka hijau. Taman Samarendah dan Islamic Center Samarinda menjadi beberapa ikon baru yang mempercantik wajah kota. Meskipun menghadapi tantangan seperti banjir dan kemacetan, Samarinda tetap menjadi kota yang dinamis dan menjadi pusat pertumbuhan di Kalimantan Timur. Sejarah panjangnya dari sebuah permukiman tepian sungai hingga menjadi ibu kota provinsi adalah bukti ketangguhan dan semangat warganya.

Tag: Samarinda,Sejarah Samarinda,Kalimantan Timur,Sungai Mahakam,Kota Tepian