2026-10-30 19:00:50

Budaya dan Kehidupan Masyarakat Samarinda: Kota Tepian di Tepi Mahakam

Samarinda tumbuh sebagai kota tepian yang hidup dari Sungai Mahakam. Keberagaman suku, kesenian, dan kuliner membentuk wajah kota ini.

Panorama Sungai Mahakam dan jembatan di Samarinda saat senja

Samarinda dikenal sebagai Kota Tepian karena posisinya yang membentang di sepanjang tepi Sungai Mahakam. Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, kota ini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan jasa di kawasan timur Kalimantan. Kehidupan warganya sulit dilepaskan dari sungai, yang sejak lama berperan sebagai jalur transportasi, sumber penghidupan, sekaligus ruang berkumpul.

Luas wilayah Samarinda sekitar 718 kilometer persegi dan terbagi menjadi sepuluh kecamatan: Samarinda Ilir, Samarinda Kota, Samarinda Seberang, Samarinda Ulu, Samarinda Utara, Sungai Kunjang, Palaran, Sambutan, Loa Janan Ilir, dan Sungai Pinang. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, jumlah penduduknya lebih dari 800 ribu jiwa, menjadikannya salah satu kota dengan penduduk terbanyak di Kalimantan.

Sungai Mahakam sebagai Nadi Kehidupan

Bagi masyarakat Samarinda, Sungai Mahakam bukan sekadar bentang alam. Sungai ini menjadi urat nadi ekonomi dan mobilitas. Perahu motor dan kapal kayu masih melintas setiap hari, mengangkut penumpang maupun barang dari dan ke kawasan permukiman di tepian. Dermaga-dermaga kecil tumbuh di sepanjang sungai dan melayani warga yang lebih mudah menjangkau aktivitas harian lewat air.

Transportasi dan Aktivitas Harian di Sungai

Angkutan sungai menjadi pilihan karena beberapa kawasan di Samarinda memang berbatasan langsung dengan air. Selain mengangkut orang, perahu digunakan untuk mengirim hasil bumi, material bangunan, dan kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, sungai juga menjadi tempat mencari penghidupan bagi sebagian warga, mulai dari nelayan hingga pedagang yang berjualan di atas perahu.

Aktivitas itu membentuk ritme tersendiri. Pagi hari biasanya menjadi waktu paling sibuk, ketika warga berangkat kerja atau mengantar anak ke sekolah dan barang dagangan mulai bergerak. Menjelang sore, tepian sungai kembali hidup dengan perahu yang pulang membawa muatan.

Jembatan dan Konektivitas Antarwilayah

Pertumbuhan kota menuntut koneksi darat yang memadai. Jembatan Mahakam yang membentang di atas sungai menghubungkan kawasan Samarinda Kota dengan Samarinda Seberang, dua wilayah yang sejak lama menjadi pusat aktivitas. Kehadiran jembatan ini mengubah pola pergerakan warga dan mempercepat pertumbuhan kawasan di seberang sungai.

Seiring bertambahnya penduduk dan kendaraan, beberapa jembatan lain dibangun untuk memecah kepadatan lalu lintas. Jembatan-jembatan itu tidak hanya berfungsi teknis, tetapi juga menjadi penanda perkembangan kota dan bagian dari lanskap yang akrab bagi warga.

Masyarakat Samarinda yang Majemuk

Samarinda dihuni berbagai suku yang datang dari dalam maupun luar Kalimantan. Suku Banjar, Bugis, Jawa, Kutai, Dayak, dan Tionghoa termasuk di antara kelompok yang membentuk wajah kota ini. Keberagaman itu tercermin pada bahasa sehari-hari, pilihan kuliner, hingga cara warga berinteraksi di ruang publik.

Bahasa dan Tradisi Sehari-hari

Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar utama, tetapi bahasa Banjar, Kutai, Bugis, dan bahasa daerah lain tetap dipakai dalam percakapan keluarga dan lingkungan kampung. Perpaduan ini membuat Samarinda punya warna khas: logat dan kosakata yang berbeda terdengar berdampingan di pasar, terminal, dan warung kopi.

Tradisi keagamaan juga hidup kuat. Masjid, gereja, vihara, dan kelenteng berdiri berdampingan, dan hari-hari besar masing-masing komunitas biasanya berlangsung dengan pengamanan serta partisipasi warga sekitar.

Gotong Royong dan Kehidupan Kampung

Di tingkat RT dan kelurahan, gotong royong masih menjadi kebiasaan. Warga bergotong membersihkan saluran air, memperbaiki fasilitas umum, atau menyiapkan acara kampung. Semangat ini menjadi perekat sosial di kota yang pertumbuhannya cukup cepat.

Kesenian dan Tradisi Lisan

Kehidupan budaya Samarinda tidak lepas dari pengaruh Melayu, Banjar, Kutai, dan Dayak. Berbagai kesenian tumbuh dan dipentaskan dalam acara resmi, pernikahan, maupun festival.

Tari Jepen dan Musik Tingkilan

Tari Jepen merupakan tarian bernuansa Melayu yang hidup di Kalimantan Timur. Gerakannya lincah dan sering dibawakan berpasangan, diiringi musik tingkilan. Kesenian ini kerap tampil dalam penyambutan tamu, acara budaya, dan kegiatan sekolah.

Madihin dan Pantun

Madihin adalah seni tutur berbahasa Banjar yang berisi pantun dan biasanya diiringi rebana. Seorang pemadihin dituntut cekatan merangkai kata, menyesuaikan isi pantun dengan situasi penonton. Di Samarinda, madihin masih dijumpai pada acara hajatan dan panggung budaya.

Kuliner sebagai Cermin Kehidupan

Kuliner Samarinda memperlihatkan percampuran budaya yang sama. Bahan lokal dari sungai dan pasar berpadu dengan bumbu khas Banjar, Bugis, dan Jawa.

Nasi Kuning dan Kerupuk Basah

Nasi kuning Samarinda biasa disajikan dengan lauk dan sambal yang khas. Ada pula kerupuk basah, makanan yang disajikan bersama kuah dan bumbu, bukan digoreng seperti kerupuk pada umumnya. Keduanya mudah ditemukan di warung dan pasar tradisional.

Amplang dan Bubur Pedas

Amplang, kerupuk ikan yang renyah, menjadi oleh-oleh yang identik dengan Kalimantan Timur dan banyak dijual di Samarinda. Sementara itu, bubur pedas yang berbahan dasar beras sangrai merupakan hidangan warisan masyarakat Banjar yang biasa disantap saat sarapan atau acara keluarga.

Ruang Publik dan Ikon Kota

Perkembangan kota menghadirkan ruang-ruang baru bagi warga untuk berkumpul. Beberapa di antaranya kemudian menjadi ikon Samarinda.

Masjid Islamic Center Samarinda

Masjid Islamic Center Samarinda menjadi salah satu penanda kota. Bangunannya memiliki kubah besar dan menara yang menjulang, serta sering menjadi lokasi kegiatan keagamaan dan kunjungan wisata. Keberadaannya memperkuat identitas Samarinda sebagai kota dengan kehidupan religius yang kuat.

Tepian Mahakam dan Pasar Tradisional

Kawasan tepian Sungai Mahakam di sekitar pusat kota ditata sebagai ruang publik. Warga memanfaatkannya untuk berolahraga, berkumpul, dan menikmati pemandangan sungai, terutama pada pagi dan sore hari. Tidak jauh dari sana, pasar tradisional seperti Pasar Pagi menjadi pusat perdagangan yang ramai dan menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat.

Tantangan dan Harapan

Sebagai kota yang tumbuh cepat, Samarinda menghadapi sejumlah persoalan. Banjir musiman, kemacetan, dan kebutuhan ruang terbuka hijau menjadi isu yang kerap dibahas warga. Ketergantungan ekonomi pada sektor pertambangan batu bara juga mendorong kebutuhan diversifikasi usaha, terutama di tengah wacana transisi energi.

Di sisi lain, pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur membawa peluang baru bagi kota-kota di sekitarnya, termasuk Samarinda. Sektor jasa, perdagangan, pendidikan, dan pariwisata berpotensi tumbuh, dengan catatan pembangunan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan kehidupan sosial warga.

Bagi masyarakat Samarinda, budaya sungai dan semangat gotong royong adalah modal penting. Selama keduanya dijaga, kota ini bisa tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Kota Tepian yang ramah dan beragam.

Tag: Samarinda,Budaya,Sungai Mahakam,Kalimantan Timur,Kehidupan Masyarakat